Articles

Articles and Publications

Medicastore

Terapi sel induk untuk gagal jantung di singapura

Scientific medicastore - 24/08/2007

Seorang Nyonya berinisial N dulunya sehat, mampu joging 5 km, sampai 2 tahun lalu. Beliau kemudian mengalami kehabisan napas saat berjalan pada jarak yang pendek, kakinya menjadi bengkak dan dilarikan ke rumah sakit karena tidak bisa berjalan.

Di rumah sakit (RS), setelah dokter spesialis jantung melakukan berbagai tes, Nyonya N pun divonis gagal jantung. Jantungnya tidak memompa cukup darah untuk tubuhnya. Nyonya N disuruh minum 6 atau 7 obat tapi kondisinya tetap memburuk. Pada usia 45 tahun, nyonya N diberitahu bahwa mungkin hidupnya hanya tinggal 2 tahun.

Tapi Nyonya N tidak mau menyerah begitu saja. Nyonya N mencari di internet dan mempelajari terapi sel induk untuk penyakit jantung. Sebuah perusahaan Theravitae menggunakan terapi sel induk VesCell pada pasien dengan penyakit arteri koroner dan gagal jantung kongestif.

Nyonya N kemudian menemui dr. Eugene Sim di RS Mount Elizabeth, Singapura. Dr. Eugene Sim, adalah seorang konsultan ahli bedah jantung, paru-paru dan pembuluh darah di RS Gleneagles dan RS Mount Elizabeth, Singapura dan RS JPMG Brunei Darussalam.

Dr Eugene Sim, Consultant Cardiothorachic & Vascular Surgeon Gleneagles & Mount Elizabeth Hospital

Dr. Eugene Sim menjelaskan terapi menggunakan sel-sel induk dalam Parkway Media Gathering yang diselenggarakan 03 Agustus 2007 lalu di Hotel Mid Plaza Intercontinental.

Sel induk memiliki kemampuan unik yang tidak dimiliki oleh sel lain. Sel induk mampu berubah menjadi sel lain, mampu untuk mengembara menuju ke daerah yang mengalami kerusakan jaringan dan mampu untuk bergabung dengan sel lain di jaringan tersebut.

Bila sel induk disuntikkan ke jantung, sel ini dapat menuju ke jaringan yang rusak karena jaringan yang rusak tersebut menghasilkan zat-zat kimiawi yang dapat menarik sel-sel induk tersebut. Di sini sel induk tersebut akan dapat berubah menjadi sel pembuluh darah jantung atau sel otot jantung baru dan bergabung dengan sel lain yang sudah ada di tempat tersebut.

“Terapi sel induk digunakan untuk mengobati penyakit jantung yang tidak memiliki pilihan pengobatan seperti penyakit arteri jantung (penyakit jantung koroner), kardiomiopati, dan gagal jantung kongestif,” jelas dr. Eugene Sim.

Dalam terapi sel induk, dokter akan mengambil sel induk dari darah pasien sendiri kemudian mengandakan sel-sel induk tersebut di laboratorium dan seminggu kemudian menyuntikan sel-sel induk ke dalam jantung yang terganggu. “Sel induk dewasa diambil dari darah pasien sendiri sehingga tidak ada kemungkinan tubuh menolak sel induknya sendiri,” tambah dr. Eugene Sim.

Ada 2 cara pemberian terapi sel induk yakni melalui suntikan arteri intrakoroner dan suntikan thorakoskopik. Cara yang pertama dilakukan menggunakan kateter melalui arteri femoral (pembuluh arteri di paha). Sebuah balon dikembangkan, melebarkan arteri yang dihalangi plak, kemudian siringe memasukkan sel-sel induk ke dalam bagian yang menderita kekurangan suplai darah.

Cara yang kedua dilakukan dengan menyuntikan langsung sel-sel induk ke otot jantung dengan operasi kecil menggunakan teknik thorakoskopik dimana 3 lubang masuk kecil dibuat di bagian kiri dinding dada. Kemudian sebuah jarum khusus disuntikkan langsung ke otot jantung.

Sel-sel induk yang disuntikan kemudian mulai terbagi, migrasi dan merangsang faktor pertumbuhan, memfasilitasi pembentukan pembuluh darah baru dan merekrut sel-sel lain ke bagian yang dapat membangun otot jantung.

Nyonya N pun tertarik dan mencoba terapi sel induk dan diambil darahnya sebanyak 250 ml yang selanjutnya dikirim ke laboratorium. Seminggu kemudian, Nyonya N dioperasi dan menerima 30 suntikan berisi sel-sel induknya sendiri ke jantungnya.

Setelah 6 minggu kemudian Nyonya N merasa lebih baik. Kini, Nyonya N mampu melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukannya saat sakit seperti membersihkan rumah dengan vakum. Hasil scan jantung menyatakan bahwa jantungnya mengalami peningkatan kekuatan hampir dua kali lipat.

Dr. Eugene Sim merupakan ahli bedah pertama di Singapura yang menggunakan tranplantasi prekursor sel angiogenik (stem cell) untuk gagal jatung pada september 2006 lalu. Dr. Eugene Sim menyebutkan bahwa sampai saat ini telah lebih dari 150 pasien yang telah diterapi menggunakan sel-sel induk Theravitae.